Wednesday, March 25, 2015

Before Marriage Syndrom

Bismillahirrahmanirahim,,,

Alhamdulillah rencana untuk membuat blog bersama akhirnya terealisasikan jugaa,,hehe. Sebenarnya sejak awal menikah suami sudah mengusulkan ide untuk membuat blog bersama, but karena satu dan lain hal (kalau saya sie mood untuk menulisnya sedang berada di titik terendah,, :p). Well karena mood saya dalam menulis sedang bagus, jadi saya mencoba untuk aktif menulis lagi. Beberapa motivasi dan latar belakang saya menulis lagi silahkan lihat di blog saya yang lain yaaa,,, mawargerhana.blogspot.com


Dua minggu ini suami diminta tolong membuat desain undangan pernikahana untuk kedua  sahabatnya. Karena salah satu calon mempelai wanitanya cukup dekat dengan saya, so she told me about her feeling, about her nerves, about her fear, and about her happines. Sebagai seseorang yang pernah melalui fase ini,

Jawab Iblis:"Adalah satu kemajuan bagi perempuan yang merenggangkan kedua pahanya kepada lelaki yang bukan suaminya, setengahnya sampai mengeluarkan benih yang salah sifatnya. Aku goda semua manusia supaya meninggalkan sholat, terbuai dengan makan minum, berbuat durhaka, aku lalaikan dengan harta benda dari emas, perak dan permata, rumahnya, tanahnya, ladangnya agar hasilnya dibelanjakan ke jalan haram. 
Demikian juga ketika pesta yang bercampur antara pria dan perempuan. Disana aku lepaskan sebesar-besar godaan untuk hilang peraturan dan minum arak. Bila terminum arak itu maka hilanglah akal, pikiran dan malunya. Lalu aku ulurkan tali cinta dan terbukalah beberapa pintu maksiat yang besar, datang perasaan hasad dengki sampai ke pekerjaan zina. Bila terjadi kasih antara mereka, terpaksalah mereka mencari uang hingga menjadi penipu, peminjam dan pencuri. 
Bila mereka teringat akan salah mereka lalu ingin bertobat atau berbuat amal ibadah, aku akan rayu mereka agar mereka menangguhkannya. Bertambah keras aku goda agar menambahkan maksiat dan mengambil istri orang. Kapan kena goda hatinya, datanglah rasa ria, takabur, megah, sombong dan melengahkan amalnya. Kapan pada lidahnya, mereka akan gemar berdusta, mencela dan mengumpat.Demikianlah aku goda mereka setiap saat. " 
alhamdulillah segala kegalauan dan ketakutan dia cukup teratasi dengan sedikit saran dan masukan, yaaah walaupun terkadang muncul kembali tapi setidaknya tidak seheboh ketika pertama kali dia merasakan, hehe.

 Menurut saya ketakutan yang terjadi menjelang pernikahan adalah hal yang wajar. Dalam ilmu psikologi gejala ketakutan yang timbul menjelang pernikahan biasa disebut before marriage syndrom atau sindrom pra nikah. Secara psikologi, sindrom ini muncul karena banyaknya hal yang harus diurus oleh kedua calon mempelai hingga hari pernikahan. Semakin banyak hal yang harus dipikirkan, maka kedua calon pengantin  semakin berpotensi untuk memicu stress yang selanjutnya dapat mengakibatkan konflik, bisa dengan calon pasangan ataupun dengan keluarga, hiii ngeri yaaa. Yuup walaupun dianggap hal yang wajar tapi jangan dianggap sepele juga yaaa,,karena bila ketakutan ini dibiarkan terus berlarut maka bisa terjadi kegagalan pernikahan.Naudzubillah L


Dalam kacamata islam, ketakutan ini tentu saja muncul akibat tipu daya setan. Dalam dialog Rasulullah SAW dengan iblis rasulullah bertanya :

"Hai Iblis! Bagaimana perbuatanmu kepada makhluk Allah?"

Lihat, setan akan selalu menggoda manusia yang berniat mendekatkan diri kepada Allah, Setiap saat ya temaan,,.  Menikah adalah menyempurnakan agama, karena banyak sekali amal ibadah yang dapat kita lakukan hanya dapat dilakukan bila kita telah menikah. So, inilah mengapa setan sangat membenci apabila ummat Nabi Muhammad berniat untuk menyempurnakan agamanya,karena berarti makin sedikit umat manusia yang menemaninya di neraka. Karena itulah  ia selalumeng goda setiap insan tersebut. Ia tiupkan rasa gundah, ketakurtan dan kekhawatiran sehingga para calon pengantin menjadi takut untuk melangkah, takut meenyempurnakan agama, takut kehilangan kebebasan dan ketakutan-ketakutan yang lain.


Inilah beberapa ketakutan-ketakutan yang muncul bagi para calon pengantin

1.       Is He/She the right man for me?
“Aduuuhh kok sifatnya beda banget yaaa sama saya”
“Kira-kira saya siap gak hidup bersama dia?”
“Hemm jangan-jangan saya bisa mendapatkan calon yang lebih baik dari dia”
Dan berbagai pertanyaan yang muncul karena keraguan tentang kapasitas diri dan calon pasangan kita.
Loh kok bisa sie muncul pertanyaan ini? Padahal saya sudah berusaha agar proses yang saya lakukan hingga hari pernikahan sesuai dengan tuntunan sunnah Rasul. Tentu saja bisa dooong sahabaat… Pasangan yang menikah lewat proses pacaran aja masih digoda oleh setan dengan keraguan, apalagi kita yang berusaha agar setiap proses dan langkahnya sesuai dengan syariat, godaan setannya lebih kenceeng, mungkin jabatan setannya adalah jendral, hehe.
Jujur saja, saya merasakan keraguan ini bahkan sampai hari pernikahan saya!. Dan keraguan ini langsung menguap ketika ijab qabul selesai diucapkan, dan keraguan langsung berganti keyakinan ketika saya menjalani bahtera rumah tangga.” Is He the right man for me”?. “Yes, of course he is the right and the only man for me” J. Beberapa tips yang saya lakukan agar keraguan saya berubah menjadi keyakinan :
1.       Selalu istikharah, dan ceritakan segala kegundahan kita kepada Allah
2.       Selalu membaca surat Al-Imran : 8
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah engkau memberikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi”.
3.       Komunikasikan apa yang kita rasakan kepada orang tua atau murabbi.
4.       Cobalah bayangkan, dari sekitar jutaan laki-laki/perempuan di dunia ini, ternyata dia, ya dia dengan secara sukarela dan ikhlas memberikan sisa hidupnya untuk bersama dengan kita. Memberikan segenap jiwa dan pikirannya untuk kebahagiaan kita, dan memberikan keyakinan bahwa kitalah yang pantas menjadi orang tua bagi anaknya kelak. So sweet gak sie?? J
5.       Yakinkan diri dan selalu meluruskan niat bahwa pernikahan ini untuk meraih ridho-Nya.

2.       Perubahan status dari single menjadi married, dari anak menjadi istri/suami
Tidak bisa dipungkiri bahwa menikah adalah fase paling dinanti bagi para akhwat/ikhwan yang masih single. Pertanyaan “kapan nikah”, dari teman atau keluarga besar akhirnya terjawab sudah dengan tersebarnya undangan. Bahagia rasanya ketika kita tahu bahwa nanti akan ada seseorang yang selalu tersenyum untuk kita, yang selalu mendengarkan keluh kesah kita, yang selalu sedia untuk memberikan bahunya sebagai sandaran. Wooww,,bahagia rasanya yaaa.
Tapi ketika kita makin mempelajari tentang kewajiban kita sebagai suami/istri mulai muncul pertanyaan “Saya sanggup gak ya?”. Pertanyaan tersebut terus menggelayuti pikiran kita dan akhirnya muncul keraguan tentang kapasitas diri.
Dalam hal ini saya menyarankan untuk terus belajar tentang pernikahan, ikuti pelatihan tentang persiapan pernikahan dan terus meyakinkan diri bahwa kita pasti bisa. Wajar memang kalau kita meragukan kemampuan kita, karena sebelumnya kita melakukan segala sesuatu untuk sendiri. Tapi ketika kita menikah kita punya tanggung jawab tambahan untuk mengurusi kebutuhan pasangan. “ngurusin diri sendiri aja susah bagaimana ngurus pasangan?”, gitu gak sie yang kita pikirkan?, hehe. Makanya solusi yang paling efektif adalah mengikuti seminar atau pelatihan pra nikah, agar kita makin PD dan yakin dengan kemampuan kita dalam berumah tangga. Okeee (y).

Persiapan pernikahan membuat interaksi antara kita dengan orang tua menjadi semakin intens, terkadang kita melihat kelelahan orang tua saat mempersiapkan hari pernikahan kita, tiba-tiba muncul perasaan “tidak mau meninggalkan” kedua orang tua kita (aaahhh kalau mikir ini kadang saya merasa sedih dan ingin menangis :( ).  
Pesta pernikahan hakikatnya bagi orang tua adalah pesta perpisahan bagi anaknya. Anak yang biasanya selalu dilihat wajahnya setiap pagi, setelah anak menikah mereka hanya bisa melihat wajahnya dari foto. Anak yang biasanya setiap malam mengobrol tentang berbagai macam hal, setelah menikah hanya bisa berbicara lewat telepon atau sms, itupun dengan pembicaraan yang singkat. Anak yang biasanya meminta tolong ini itu, setelah menikah ternyata ada orang lain yang siap menolongnya kapan saja. Dan rasa kehilangan lain yang dirasakan orang tua.Tentu saja kita sebagai anak juga merasakan kehilangan, bahkan terkadang membuat kita berpikir untuk membatalkan pernikahan karena tidak siap meninggalkan orang tua.
 Sahabat, jika rasa itu ada dalam diri kita, maka bersyukurlah, berarti kita adalah anak yang menyayangi orang tua kita dan insya Allah kita termasuk anak yang berbakti kepada orang tua kita. Tahukah sahabat, salah satu cara berbakti kepada orang tua adalah menjadi istri atau suami yang baik, dengan demikian pahala yang kita dapatkan sebagai seorang istri atau suami mengalir juga kepada kedua orang tua kita. Karena kedua orang tua kita berhasil mendidik anaknya menjadi seorang istri/suami yang sholeh. Tanamkanlah dalam diri kita pemikiran ini sehingga kita makin mantap untuk melangkah menjadi seorang suami/istri. Aamiin.

3.       Bye bye freedom
Jalan-jalan ke mall, travelling, ke bioskop, ke perpus, main game, wisata kulliner dan segala macam kegiatan yang biasa kita lakukan bersama teman atau sendiri otomatis akan berkurang setelah kita menikah. Hakikatnya ketika kita mendapatkan sesuatu maka disaat yang sama kita akan kehilangan sesuatu. Jadi wajar bila kita takut kehilangan kebebasan kita ketika kita menikah, sesuatu yang biasa menjadi tidak biasa atau bahkan tidak boleh ketika kita menikah, heemm scaryyyy…
But lets be smart sahabat, memang benar kita akan kehilangan waktu kebersamaan kita dengan sahabat atau mungkin diri kita sendiri, tapi coba bayangkan waktu yang hilang tersebut diganti oleh Allah dengan kebersamaan kita bersama pasangan. Kita masih bisa kok jalan-jalan ke Mall, traveling, ke bioskop, ke perpus, main game, wisata kuliner dan masih banyak lagi tentunya dengan pasangan kita. Selain membahagiakan, kita juga dapat pahala lho. Wooww bahagia dunia akhirat kan?enaknyaa pacaan sesudah menikah, hehe.
Intinya kita hanya kehilangan “sedikit” waktu kebersamaan kita bersama teman-teman bukan kehilangan mereka seutuhnya kaaan?. Lagipula tenang saja, insya Allah pasangan kita adalah pasangan yang pengertian jadi masih membolehkan kita untuk bertemu dengan teman-teman kita J.

Semoga bermanfaat yaa, dan semoga kita makin mantap melangkah ke jenjang pernikahan.

Baarakallahu laka wa baaraka ‘alaika wajamala bainakuma fii khair..




No comments:

Post a Comment