Berdiri mematung
disini rasanya adalah pilihan terbaik. Ombak yang datang dan pergi, sepertinya
sengaja Tuhan kirim untuk mendeburkan buncah hati yang tak karuan.
Aku masih berada di
pinggir pantai bagian utara Indonesia. Di Tapaktuan yang manis. Seperti tengah
bermanjaan dengan gadis yang mengulum senyum kegirangan kala rambutnya
dibelai-belai. Udara disini seperti biasa selalu cerah. Matahari yang sempurna
dengan udara sejuk yang berhembus melengkapi dari pegunungan di belakang
punggung.
Rekan-rekan kerjaku
entah berada dimana. Kami tengah berpencar untuk memetakan lokasi pembangunan
sebuah dermaga strategis daerah. Biar di tempat asing dengan perasaan yang
mendadak terasing pasca pembicaraan dengan bang Hadi, kali ini entah kenapa
rasanya mulai ada sesuatu yang meramaikan hati dan pikiran.
Bukan bualan rasanya
bila ada bagian dari lelah lelaki yang tak kunjung lekas reda dengan
beristirahat. Juga tak hilang dengan menyuplai energi dari makanan dan sumber
nutrisi lain. Dan bukan gombal rasanya bila biarpun mesti subjektif, aku mesti
mengatakan bahwa sumber kekuatan baru seorang lelaki yang kelelahan ada pada
kelembutan seorang perempuan.
Ya, baru kali ini
rasanya kesimpulan-kesimpulan serupa mulai menyeruduk logika dan kekerasan hati
selama ini. Semenjak SMA, aku telah berusaha menutup diri dari ketertarikan
pada perempuan. Aku hanya ingat pesan Tuhan bahwa kelak bisa celaka bila tak
menjaga diri dengan yang namanya perempuan.
Namun 2 tahun
terlibat dalam dunia kerja rasanya mulai membawaku masuk pada pintu pemahaman
baru. Kemengertian yang baru tepatnya. Logikaku, mulai bersimpati pada
perasaanku. Rupanya, akal dan hatiku masih saling sayang. Air mata rindu kerap
mengalir bukan karena hati meringis, namun karena pikiranku tengah lelah dan
ingin berhenti keras kepala.
Maka di pinggir
pantai yang berpasir putih ini, kubiarkan resah itu ikut kalut bersama
gelombang yang pecah-pecah. Terantuk karang atau menampar pantai. Disini juga
rupanya segenap tubuhku sontak ingin berdo'a. Agar kelak Tuhan pertemukan
dengan wanita pilihan yang Tuhan perkenankan ia lahir untuk jadi pasanganku dan
aku untuknya.
"Tuhan,sesungguhnya aku lelah dan ingin rebah.
Namun masih banyak yang mesti kukejar dan raih. Maka pertemukan aku dengan
seseorang yang mampu lari membersamaiku. Agar aku tak perlu berhenti sekedar
mengusap peluh.
Sebab bila wanita pilihan itu ada, ia lah yang akan
menyebabkan segala ketidakmungkinan ragaku jadi mungkin berkat hadirnya."
No comments:
Post a Comment