Wednesday, April 15, 2015

Do'a Pantai

Berdiri mematung disini rasanya adalah pilihan terbaik. Ombak yang datang dan pergi, sepertinya sengaja Tuhan kirim untuk mendeburkan buncah hati yang tak karuan.

Aku masih berada di pinggir pantai bagian utara Indonesia. Di Tapaktuan yang manis. Seperti tengah bermanjaan dengan gadis yang mengulum senyum kegirangan kala rambutnya dibelai-belai. Udara disini seperti biasa selalu cerah. Matahari yang sempurna dengan udara sejuk yang berhembus melengkapi dari pegunungan di belakang punggung.

Rekan-rekan kerjaku
entah berada dimana. Kami tengah berpencar untuk memetakan lokasi pembangunan sebuah dermaga strategis daerah. Biar di tempat asing dengan perasaan yang mendadak terasing pasca pembicaraan dengan bang Hadi, kali ini entah kenapa rasanya mulai ada sesuatu yang meramaikan hati dan pikiran.

Bukan bualan rasanya bila ada bagian dari lelah lelaki yang tak kunjung lekas reda dengan beristirahat. Juga tak hilang dengan menyuplai energi dari makanan dan sumber nutrisi lain. Dan bukan gombal rasanya bila biarpun mesti subjektif, aku mesti mengatakan bahwa sumber kekuatan baru seorang lelaki yang kelelahan ada pada kelembutan seorang perempuan.

Ya, baru kali ini rasanya kesimpulan-kesimpulan serupa mulai menyeruduk logika dan kekerasan hati selama ini. Semenjak SMA, aku telah berusaha menutup diri dari ketertarikan pada perempuan. Aku hanya ingat pesan Tuhan bahwa kelak bisa celaka bila tak menjaga diri dengan yang namanya perempuan.

Namun 2 tahun terlibat dalam dunia kerja rasanya mulai membawaku masuk pada pintu pemahaman baru. Kemengertian yang baru tepatnya. Logikaku, mulai bersimpati pada perasaanku. Rupanya, akal dan hatiku masih saling sayang. Air mata rindu kerap mengalir bukan karena hati meringis, namun karena pikiranku tengah lelah dan ingin berhenti keras kepala.

Maka di pinggir pantai yang berpasir putih ini, kubiarkan resah itu ikut kalut bersama gelombang yang pecah-pecah. Terantuk karang atau menampar pantai. Disini juga rupanya segenap tubuhku sontak ingin berdo'a. Agar kelak Tuhan pertemukan dengan wanita pilihan yang Tuhan perkenankan ia lahir untuk jadi pasanganku dan aku untuknya.

"Tuhan,sesungguhnya aku lelah dan ingin rebah. Namun masih banyak yang mesti kukejar dan raih. Maka pertemukan aku dengan seseorang yang mampu lari membersamaiku. Agar aku tak perlu berhenti sekedar mengusap peluh.

Sebab bila wanita pilihan itu ada, ia lah yang akan menyebabkan segala ketidakmungkinan ragaku jadi mungkin berkat hadirnya."

No comments:

Post a Comment