Tak pernah ada yang
tahu bagaimana takdir hendak membawa manusia. Allah dengan begitu sempurna
telah menyusun skenario panjang. Meresahkan bila tak percaya. Menenangkan bila
diyakini penuh keimanan.
---
Akhirnya saya mesti
menginjak tanah itu. Yang tempo hari baru berhenti dari desing dan lontar
selongsong. Topografinya belia, alam perawan yang menyenangkan buat dikunjungi.
Impas membayar total 13 jam perjalanan untuk menyambanginya.
Dari Bandung kami
tancap ke Bandara di Tangerang untuk menuju Polonia. Dari sana, butuh sekitar
10 jam perjalanan lintas gunung untuk kemudian menepi ke kawasan pesisir di
Tapaktuan, Aceh Selatan. Tugas saya
disana bisa dibilang mudah, biarpun faktanya cukup menyulitkan.
Mudah karena ini
hanya sepersekian dari praktek nyata atas apa yang dipelajari semasa kuliah.
Sulit, karena
lapangan tak mengondisikan skill
kita dengan statis dan serba terkontrol layaknya laboratorium.
Di tempat ini, Saya
mesti turut menentukan titik-titik yang akan dijadikan sebagai kawasan
minapolitan (kompleks budidaya perikanan). Menyambangi rawa, tanah tak bertuan
dan pelosok pedesaan berteman alat
navigasi dan perlengkapan untuk mengambil sampel air dan tanah. Juga
berkoordinasi dengan dinas-dinas kabupaten terkait.
Biar monyet-monyet
sepanjang jalan sering mengusik, namun menikmati perjalanan blusukan di tanah asing ini tetap
menyenangkan. Lebih terasa gembira mengingat segenap persoalan yang membuat
ricuh hidup di Bandung bisa ditinggal sementara waktu.
Tapaktuan adalah
kecamatan kecil di Kabupaten Aceh Selatan. Disini, ada bukit yang jadi awal
antrian Bukit Barisan. Topografinya unik. Yang menonjol dan jadi ciri khas saat
memasuki Tapaktuan adalah sebuah Gunung besar yang angkuh menghadap laut.
Itulah gunung Tapaktuan. Sehingga jalan menuju kecamatan ini sepenuhnya adalah
jalanan berkelok di sepanjang lereng dan tubir pantai.
Biar ini adalah
kawasan pesisir, namun relatif tak panas. Tetap adem
biar tengah hari. Boleh jadi ini karena pegunungan yang mengungkungi sebagian
besar garis batas kecamatan.
Selama disini, saya
dan tim tinggal di sebuah losmen sederhana. Sebuah mesjid besar dan entah
berapa kedai kopi juga mie aceh cukup dijangkau 1- 2 menit saja. Selama disini
kami diantar kesana kemari oleh seorang pegawai BPLHD setempat, juga ditemani
seorang pegawai Dinas Kelautan dan Perikanan.
Bang Hadi, demikian
saya memanggil pegawai dinas itu. Nampak muda. Beranak satu. Orangnya
menyenangkan.
Mm..namun tunggu. Bang Hadi bukan jenis
menyenangkan yang senang berceloteh atau bagaimana. Ia hanya berbicara tepat
pada waktunya, Itu yang membuat ia menyenangkan buat saya. Tekun dalam
mendengar dan menempatkan senyum dengan pas sebagai bumbu percakapan.
Namun, ada satu hal
yang akhirnya juga harus membuat saya menaruh sedikit kesal padanya.
Kenapa topik
pembicaraannya yang pertama mesti tentang pernikahan? -_-"
"Berapa usia
sekarang Ron?"
"mau 24
Bang"
"24?? Wah, udah pas sekali itu Ron."
"Ya..
Mudah-mudahan sih bang, inginnya pas
umur 25"
"Iya, bagus
itu. Cepat-cepatlah. Jangan sampai nyesal
seperti Abang."
"Lho? Kenapa bang?"
"Abang itu,
boleh dibilang termasuk yang lambat dalam menikah. Bayangkan, usia abang sudah
30 dan istri abang baru lahiran?? Kalau anak ini besar nanti, sudah setua apa
Abang? Entah masih kuat berceloteh dengan cucu atau tidak.
Lagipula yang Abang
rasakan, menikah itu malah menghemat anggaran bulanan Ron."
"Kok bisa bang? Ah, tapi melajang pun saya terhitung yang bisa hemat lho bang, hehe"
"Kalau begitu,
pasti bisa jauh lebih hemat kalau kelak
sudah menikah. Bayangkan, umur 25 Abang sudah jadi PNS. Gaji dan tunjangan
Abang buat seorang bujang terhitung lumayan lah.
Tapi tau tidak Ron? Menjelang akhir
bulan, Abang sering kelimpungan karena uang kok
rasanya sudah sedikit sekali? Kenapa cepat habis?
Bayangkanlah Ron,
kalau tiap pulang kerja diajak main oleh teman. Kita susah mau ngelak. Akhirnya
ikut. Belum dilain waktu diajak kesana-kemari, beli itu ini semaunya. Ya cepat
habislah duit Ron.
Tapi sekarang kalau
sudah menikah. Uang aman Ron. Selain sesuai janji Allah, rizkinya berlipat,
juga ada yang ngurus sekarang. Pengeluaran teratur, dan pulang kerja sudah ada
yang Abang tuju: r.u.m.a.h."
Sepanjang sisa
pejalanan, kami banyak sekali
membincangkan banyak hal. Lebih tepat sebenarnya bila disebut saya
menyetir topik pembicaraan. Entahlah,
rasanya sangat tak nyaman ketika harus menerima bincangan macam demikian.
Di rentang usia ini,
secara naluriah rindu terhadap pasangan suka atau tidak memang akan hadir. Dan
selama ini, sesuai anjuran Rasulullah saw memperbanyak Shaum juga insyaallah dilakukan. Shaum dalam cakupan maknanya
yang luas. Selain berarti puasa seperti yang biasa dilakukan, berarti juga
harus lebih kuat menahan pandangan, lebih hati-hati dan menahan diri dalam
pergaulan yang kurang benar, menahan amarah, menahan angan-angan dan
sebagainya.
Itulah sebabnya
mendengar percakapan macam ini jadi agak
mengganggu.
Namun justru, disaat
itulah saya juga disadarkan. Barangkali, ini bukan lagi masanya tetap menahan
diri. Boleh jadi, ada ikhtiar lebih jauh yang mesti ditapaki.
Heeeh.. Kenapa harus disini? Begitu lama saya
menahan-nahan diri. Menetralkan semua emosi
tak perlu bertahun lamanya. Namun begitulah takdir akhirnya meyakinkan.
Perjalanan cinta yang mendebarkan itu, justru bermula dari sini, di Tapaktuan.
No comments:
Post a Comment