Monday, April 6, 2015

Justru Bermula di Tapaktuan

Tak pernah ada yang tahu bagaimana takdir hendak membawa manusia. Allah dengan begitu sempurna telah menyusun skenario panjang. Meresahkan bila tak percaya. Menenangkan bila diyakini penuh keimanan.

---
Akhirnya saya mesti menginjak tanah itu. Yang tempo hari baru berhenti dari desing dan lontar selongsong. Topografinya belia, alam perawan yang menyenangkan buat dikunjungi. Impas membayar total 13 jam perjalanan untuk menyambanginya.

Dari Bandung kami tancap ke Bandara di Tangerang untuk menuju Polonia. Dari sana, butuh sekitar 10 jam perjalanan lintas gunung untuk kemudian menepi ke kawasan pesisir di Tapaktuan, Aceh Selatan. Tugas  saya disana bisa dibilang mudah, biarpun faktanya cukup menyulitkan.
Mudah karena ini hanya sepersekian dari praktek nyata atas apa yang dipelajari semasa kuliah. Sulit, karena
lapangan tak mengondisikan skill kita dengan statis dan serba terkontrol layaknya laboratorium.

Di tempat ini, Saya mesti turut menentukan titik-titik yang akan dijadikan sebagai kawasan minapolitan (kompleks budidaya perikanan). Menyambangi rawa, tanah tak bertuan dan pelosok pedesaan berteman  alat navigasi dan perlengkapan untuk mengambil sampel air dan tanah. Juga berkoordinasi dengan dinas-dinas kabupaten terkait.

Biar monyet-monyet sepanjang jalan sering mengusik, namun menikmati perjalanan blusukan di tanah asing ini tetap menyenangkan. Lebih terasa gembira mengingat segenap persoalan yang membuat ricuh hidup di Bandung bisa ditinggal sementara waktu.

Tapaktuan adalah kecamatan kecil di Kabupaten Aceh Selatan. Disini, ada bukit yang jadi awal antrian Bukit Barisan. Topografinya unik. Yang menonjol dan jadi ciri khas saat memasuki Tapaktuan adalah sebuah Gunung besar yang angkuh menghadap laut. Itulah gunung Tapaktuan. Sehingga jalan menuju kecamatan ini sepenuhnya adalah jalanan berkelok di sepanjang lereng dan tubir pantai.
Biar ini adalah kawasan pesisir, namun relatif tak panas. Tetap adem biar tengah hari. Boleh jadi ini karena pegunungan yang mengungkungi sebagian besar  garis batas kecamatan.

Selama disini, saya dan tim tinggal di sebuah losmen sederhana. Sebuah mesjid besar dan entah berapa kedai kopi juga mie aceh cukup dijangkau 1- 2 menit saja. Selama disini kami diantar kesana kemari oleh seorang pegawai BPLHD setempat, juga ditemani seorang pegawai Dinas Kelautan dan Perikanan.

Bang Hadi, demikian saya memanggil pegawai dinas itu. Nampak muda. Beranak satu. Orangnya menyenangkan.
Mm..namun tunggu. Bang Hadi bukan jenis menyenangkan yang senang berceloteh atau bagaimana. Ia hanya berbicara tepat pada waktunya, Itu yang membuat ia menyenangkan buat saya. Tekun dalam mendengar dan menempatkan senyum dengan pas sebagai bumbu percakapan.

Namun, ada satu hal yang akhirnya juga harus membuat saya menaruh sedikit kesal padanya.
Kenapa topik pembicaraannya yang pertama mesti tentang pernikahan? -_-"

"Berapa usia sekarang Ron?"
"mau 24 Bang"
"24?? Wah, udah pas sekali itu Ron."
"Ya.. Mudah-mudahan sih bang, inginnya pas umur 25"
"Iya, bagus itu. Cepat-cepatlah. Jangan sampai nyesal  seperti Abang."
"Lho? Kenapa bang?"
"Abang itu, boleh dibilang termasuk yang lambat dalam menikah. Bayangkan, usia abang sudah 30 dan istri abang baru lahiran?? Kalau anak ini besar nanti, sudah setua apa Abang? Entah masih kuat berceloteh dengan cucu atau tidak.
Lagipula yang Abang rasakan, menikah itu malah menghemat anggaran bulanan Ron."
"Kok bisa bang? Ah, tapi melajang pun saya terhitung yang bisa hemat lho bang, hehe"
"Kalau begitu, pasti bisa jauh lebih hemat  kalau kelak sudah menikah. Bayangkan, umur 25 Abang sudah jadi PNS. Gaji dan tunjangan Abang buat seorang bujang terhitung lumayan lah. Tapi tau tidak Ron? Menjelang akhir bulan, Abang sering kelimpungan karena uang kok rasanya sudah sedikit sekali? Kenapa cepat habis?
Bayangkanlah Ron, kalau tiap pulang kerja diajak main oleh teman. Kita susah mau ngelak. Akhirnya ikut. Belum dilain waktu diajak kesana-kemari, beli itu ini semaunya. Ya cepat habislah duit Ron.
Tapi sekarang kalau sudah menikah. Uang aman Ron. Selain sesuai janji Allah, rizkinya berlipat, juga ada yang ngurus sekarang. Pengeluaran teratur, dan pulang kerja sudah ada yang Abang tuju: r.u.m.a.h."

Sepanjang sisa pejalanan, kami banyak sekali  membincangkan banyak hal. Lebih tepat sebenarnya bila disebut saya menyetir topik pembicaraan.  Entahlah, rasanya sangat tak nyaman ketika harus menerima bincangan macam demikian.

Di rentang usia ini, secara naluriah rindu terhadap pasangan suka atau tidak memang akan hadir. Dan selama ini, sesuai anjuran Rasulullah saw memperbanyak Shaum juga insyaallah dilakukan. Shaum dalam cakupan maknanya yang luas. Selain berarti puasa seperti yang biasa dilakukan, berarti juga harus lebih kuat menahan pandangan, lebih hati-hati dan menahan diri dalam pergaulan yang kurang benar, menahan amarah, menahan angan-angan dan sebagainya.

Itulah sebabnya mendengar percakapan macam ini jadi agak mengganggu.
Namun justru, disaat itulah saya juga disadarkan. Barangkali, ini bukan lagi masanya tetap menahan diri. Boleh jadi, ada ikhtiar lebih jauh yang mesti ditapaki.

Heeeh.. Kenapa harus disini? Begitu lama saya menahan-nahan diri. Menetralkan semua emosi  tak perlu bertahun lamanya. Namun begitulah takdir akhirnya meyakinkan. Perjalanan cinta yang mendebarkan itu, justru bermula dari sini, di Tapaktuan.

No comments:

Post a Comment