Mimpi
adalah rangkaian rencana yang dieksekusi dengan tindakan-tindakan.
Sangat
senjang dengan angan-angan.
Maka
dulu ketika terbit rasa untuk menikah, saya awali dengan mimpi.
Mimpi
itu saya tuangkan dalam sebuah tulisan, cerpen.
Kanvas gratis yang memang
tengah saya gemari saat itu.
Dengan tulisan itu, saya sisipkan mimpi indah itu.
Kehidupan
dengan seseorang yang akan dicintai kelak.
Cerpen
yang mungkin tidak terlalu bagus, namun boleh dibilang dari sinilah semua
kinerja untuk mewujudkan mimpi itu dimulai.
Tulisan yang selalu menggantung di
di depan pandangan.
Tulisan yang menghamburkan labirin, dan memberi karpet merah
pada perjalanan saya kelak.
Inilah
cerita tersebut :
Kekuatan Kata-kata di Suatu Kala Nanti
“Hendak apa Abi?,
mengasah pedangmu lagi?”
Lelaki yang ditanya
menyungging senyum indah pada istri tercintanya itu.
“Aina, terima kasih
untuk selalu memahamiku. Kau membingkai kenangan mudaku untuk selalu kau
hadapkan pagi-pagi dan menambah bara semangat ke dada yang melemah ini”
Aina, sang istri
terkasih tersenyum penuh kenangan, “Allah telah menciptakanku untuk jadi bagian
dari bara semangatmu itu Abi.”
Cahaya pagi membuka
temaram rumah sederhana itu dengan kehangatan Cinta Ilahiah yang suci.
Rerumputan masih sedikit basah. Embikan-embikan kambing mulai membangunkan
kehidupan sederhana di pesisir sebuah desa di Sasirei, Wasior Selatan yang
nyaris terpencil di cerukan teluk Wondama Papua Barat.
Lelaki itu berdiri
dengan mata menanar. Menghadap jendela. Menatap buana yang menggeliat.
Sesungging senyum menggerat wajahnya.
“Pedangku..” katanya
lirih..
---
“Aku selalu
terpesona melihat film seperti ini. Menggambarkan pada kita dengan jelas
bagaimana praktik perang yang sesungguhnya. Terbayang bagaimana Rasulullah dan
para sahabat dulu dalam banyak kegetiran, keterbatasan dan keterdesakan mampu
dengan segenap keimanan memaksimalkan ikhtiar-ikhtiar kemenangan mereka.”
“Ya, benar.
Beruntung orang-orang timur masih mau menggarap film epik yang indah seperti
itu. Zhuge Liang. Hebat sekali orang itu digambarkan. Orang yang taktikal,
dingin, tenang dan cerdas. ”
Sebuah kos di
kawasan Jatinangor, Sumedang masih ramai oleh pembicaraan dua lelaki muda yang
penuh mimpi itu. Malam ini mereka ‘Merehatkan’ kepenatan aktivitas dua mingguan
kala itu yang padat dengan menonton Red Cliff-nya John Woo. Padahal bukan kali
pertama mereka menonton film itu. Tapi, ya begitulah anak muda. Semangatnya
besar meski seringnya aksi di lapangan tak sebesar mimpi dan
pembicaraan-pembicaraannya. Dua anak muda itu, mereka selalu semangat
membicarakan kisah-kisah peperangan Rasulullah dan para sahabatnya. Dan karena
memvisualisasikan hal itu sulit mendekati realita, maka menonton ‘gambaran’
perang yang sesungguhnya sangatlah menyenangkan bagi keduanya.
“Kau dan aku begitu
menyenangi film Epik. Tapi bagiku pribadi, inti dari kesenangan itu adalah
tentang bagaimana memelihara semangat jihad kita.”
“Ya, betul Yas. Itu
semua tentang bagaimana memelihara spirit itu agar selalu tersemai di dada
kita. Jihad adalah Spirit sejati seorang mu’min.”
Ilyas, lelaki yang
satunya itu kemudian menatap kawan bicaranya. Dengan mata penuh luapan gembira,
ia berkata, “Tapi ada satu lagi selain film-film itu yang selalu bisa
menghidupkan semangat jiwaku.”
“eh.., apa itu
Ilyas?”
“kata-katamu.”
“eh..”
“Ya, kata-katamu
akhi. Aku suka kata-katamu. Dan bila hidup kita saat ini adalah peperangan,
maka kata-katamu itulah Pedangmu. Zulfikarnya dakwah kita.”
“Ah..kau ini Yas..”
“Betul akhi. Aku
masih ingat satu kalimat dari catatanmu yang hampir selalu bisa menyemangatiku.
Kau pernah menulis ‘Muslim itu, di dadanya menggelegak semangat Jihad. Mereka
bermujahadah mulai dari membersihkan cucian kotor mereka sampai bermujahadah dengan
membersihkan kekotoran hatinya.’ Aku suka kalimat ngaco itu, ah Haha…”
“Pujianmu itu
menyinggung Yas..”
“hahaha haha. Tapi
Betul akhi. Kata-katamu sering serampangan. Seperti lahir dari keinginan kuat
untuk memperbaiki dan memberikan sesuatu kepada sebanyak-banyak orang tapi kau
tak memandang keadaan mereka. Kau memukul rata kondisi mereka.”
“Maksudnya?”
“Ya kau pikirkan
lagi lah apa yang terjadi dengan Risma seminggu lalu. Kau ceritanya menasehati
agar fotonya tak di-upload ke internet. Dan meluncurlah kata-kata mu itu yang
sekeyakinanmu pasti ‘memang seharusnya begitu.’ Tapi lihat apa yang terjadi?!
Dia lama tak mengajakmu bicara kan? Dia itu tersinggung. Kata-katamu terlalu
membombardir. Buat mereka yang halus perasaannya, kau itu Nampak kurang ajar
dikit akhi, hahaHa.”
“Ouwh,…”
“Cuma segitu lagi
komenmu, ah HAha. Dasar kau ini memang dingin. Tapi, whatever what they’re
saying bout you bro. You’ll keep still my partner. Your word, is sharp enough.
Sharp enough to become the sword who’ll be the one strong weapon on finishing
this fight.”
“Kau yakin? Really
sure?”
“Ya, I’m strongly
sure you have that power. Tinggal ngarahin aja. Sesuaikan dengan apa yang kau
hadapi, dan hujamkanlah pedang katamu itu untuk memperbaiki zaman.”
“Allahu Akbar!!”
“masyaAllah Allahu
Akbar!”
---
“Sedang mengingat
masa lalu, Abi?”
“ya, Aina.” ”Abi
ingat benar, bagaimana 15 tahun lalu, almarhum kawan Abi semasa kuliah dulu,
Ilyas, begitu meyakini potensi besar kemampuan menulis Abi. Ia memberi
semangat, meyakinkan Abi bahwa Abi bisa. Dan begitulah Abi kemudian mengarahkan
segenap potensi Abi untuk menulis. Hamdulillah banyak yang menyanjung di
kemudian hari. Sempat jadi ‘alat tempur’ saat di kampus dulu. Saling lempar
statement dengan kawan-kawan dari organisasi lain. Karena itu Ilyas menjadikan
tulisan Abi sebagai ‘pedang dakwah’ kami.”
“Ya, Aina paham
betul itu. Kata-kata Abi memang punya kekuatan. Bahkan mungkin bukan hanya jadi
pedang. Tapi panah yang bisa menancap tepat di hati Aina.”
“hush!! Ssst sst.
Sudah sudah. Malu Abi kalau mengingat-ingat itu.”
Mereka tertawa
memesrai pagi kala itu. Masa lalu adalah hal terjauh yang tak terjangkau. Namun
jika masa lalu telah dilewati dengan kasih sayang persaudaraan, perjuangan,
Cinta dan ketakwaan, maka kenangan di dalamnya akan punya kekuatan yang
membangun semangat jiwa.
---
Sang lelaki mengasah
pedang (mengelap keypad notebook) tuanya dengan hati-hati dan mata bersinar.
Sang istri telah selesai menunai dhuha di mushalla pinggir rumah mereka.
Beberapa ibu-ibu juga turut shalat disitu.
“Assalammu’alaikum…”
“’alaikumSalam
warahmatullaah wabarakaatuh.”
“eh Abi, laptopnya
mengkilat lat. Sudah cantik.”
Mata sang suami
menyipit mengiring senyum atas perkataan sang Istri.
“Iya, dia harus
selalu cantik. Karena ini adalah hadiah berharga dari Ayah angkat Abi saat di
Jerman dulu.”
“Dr. Thürrman
Hannön?”
“Iya. 2011. Saat
setengah tahun pertama di Hannover, beliau katanya tertarik dengan tulisan Abi
yang judulnya Drei Elvian, tentang 3 Bidadari. Inti tulisan itu adalah tentang
harapan-harapan dan kecintaan Abi pada 3 wanita berharga dalam hidup Abi, yaitu
Adik Iparmu, mertuamu, dan..”
“Satu lagi?”
---
“Satu lagi?”
“dirimu.”
Matahari pagi sudah
beranjak dari horison. Riakan pantai yang meramai telah menambah hidup
kehidupan desa. Dan di rumah sederhana itu, sang lelaki masih membangun
kekuatan jiwanya dengan
kenangan-kenangan…
“iih Abi, bener kan,
Nancep tuh disini”, kata sang Istri menyentuh lembut jilbab yang menutup
dadanya.
“ah Haha. Ya, Dr.
Thürrman mengerti sekali apa isi tulisan itu. Karena itu Abi tulis saat masih
bujang, beliau mempertanyakan. ‘Lalu siapa bidadari yang ketiga itu?’ Jelas Abi
bingung menjawabnya kala itu. Namun karena Abi mengerti betul beliau adalah penyuka
tulisan klasik Hawthorne dan Maupassant, maka Abi menjawabnya dengan sedikit
ber’bumbu’, Abi katakan, ‘Yang ketiga itu adalah ia yang di hatinya ada
Tuhanku, yang hidupnya untuk Tuhanku’.”
“Memang Dr. Thürrman
ngerti maksud kalimat Abi?”
“Tak ada yang
Absolut dalam menginterpretasi pemikiran. Apalagi jika tertuang dalam
kalimat-kalimat sastrawi. Namun apapun pendapatnya, insyaAllah muara
maknanyanya Satu, Aina. Dan melihat ekspresi beliau yang langsung memejam mata
dan sedikit mengangguk, Abi yakin beliau cukup dalam menginterpretasikannya.”
“Subhanallah Abi
ya?”
“Ya, hamdulilah. Dan
yang tak terduga adalah dua hari setelah itu, saat makan malam, Andrea, putri
sulung beliau, membawa bungkusan dan mempersilakan Ayahnya itu untuk
menjelaskan Apa itu kepada Abi. Dan beliau bilang, ‘Aku menyukai kata-katamu.
Kau Bijak memahami agama dan kehidupanmu. Aku salut mendapati pemuda yang
seperti dirimu. Aku tahu kau akan menyanding bidadari ketigamu itu dua tahun
lagi, maka ini kuhadiahkan padamu untuk menemanimu selama dua tahun penantian
itu’. Lalu Abi membukanya, Di bungkusannya terdapat tulisan Die Hübsch, si
Cantik. Abi tersenyum haru ketika tahu di dalamnya ternyata sebuah laptop,
ya…yang Abi pegang ini, si Cantik, hehe. ‘Itu si Cantik, bidadari yang
akan menemanimu
sementara waktu’ kata Dr. Thürrman. Abi haru jika mengingat itu…”
“Kata-katamu.
Lagi-lagi itu menarik perhatian seorang manusia. Aina bangga membersamai Abi
selama ini. Kata-kata Abi memang menarik. Selalu menarik.” Sang istri menanari
ruang sedehana itu dengan keharuan ..
Hampir pukul 09.00
WIT. Anak-anak nampak ramai berlarian bermain-main. Sang Lelaki meninggalkan
sementara pedangnya. Ia menatap lekat anak-anak itu. Ia merasai Rindu untuk
celotehan itu juga melengkapi indah pagi seperti ini disisinya. Ia ingin
celotehan itu di sisinya. Tapi…
“Abi, Aina izin
berangkat dulu ya,.”
Lamunan sang Lelaki
tersibak. Ia menoleh pada sang Istri. “Ke Sanderawoi??”
“Iya Abi, setelah
mama Hana 4 hari lalu Umi bekam, Ia merasa senang karena merasa luka dalam di
betisnya tak terasa lagi. Lalu ia mengabarkan berita itu ke Ibu-ibu yang lain,
termasuk saudarinya, mama Yosepha di Sanderawoi yang sekarang Umi mau kesana. Katanya
dia juga punya luka dalam di lengan, mudah-mudahan ikhtiar Umi ini bisa
membantu lebih banyak mama-mama lainnya Abi,.”
“InsyaAllah,
mudah-mudahan ini juga akan maslahat untuk dakwah. Agama kita ini harus kita
sampaikan dengan kasih sayang tulus yang sebesar-besarnya. Hati-hati di
perjalanan ya. Ingat, Sentuhan, mata, juga senyuman adalah bahasa tanpa kata.
Ketiganya bisa meresap jadi Cinta pada setiap mama yang kau obati..”
“insyaAllah Abi,
kata-katamu memang pantas bila dikagumi Ilyas.. Assalammu’alikum..”
“Wa’alaikumsalam..”
balas sang Lelaki sembari mendekap lembut tangan sang Istri di pipinya.
Menjelang 17
Desember 2024, Pukul 19.55 WIT. Kedua insan itu selesai menunaikan witir. Ombak
berdebur seakan ingin menggapai-gapai bintang yang memendar-mendar Cantik di
atasnya.. ingin berkata-kata banyak tentang segenap ikhtiar untuk mencapainya
di langit sana..
“Jadi seharian tadi
Abi Cuma di rumah? ”
“Iya, Cuma mengetik
dan mengetik..”
“Apalagi Abiii….?
Apalagi yang mesti ditulis?”
“Sumbangan semangat
untuk saudara muslim kita di Malaysia dan Pakistan.”
“Reunifikasi?”
“iya, Masih
sekitaran 40-45% anggota parlemen keduanya menyangsikan dan sebagian kecil
menolak mentah-mentah reunifikasi untuk mewujudkan negara Impian kita semua.
Berdasarkan informasi, memang katanya ada beberapa gelintir susupan Likud
disana. Sehingga pengalihan opini mudah sekali terjadi. Abi hanya ingin mereka
dapat tetap fokus dan semangat menjaga Misi Risalah Rasulullah untuk bisa
kembali bersatu di bawah pimpinan seorang Amir. Amirul mu’minin yang baru.
Yahudi-yahudi memang cerdas sekali. Kata Ramdan, teman Abi di staf ahli
Kementerian Luar Negeri, statement-statement pendek susupan-susupan Likud itu
mudah sekali mengalihkan fokus Bahasan Reunifikasi di Parlemen.”
“dan Abi berharap
kata-kata Abi bisa jadi tameng saudara-saudara kita disana agar tak kalah oleh
serangan kata-kata oposisi disana?”
“Bukan hanya Tameng,
namun sekaligus juga seperti kata Ilyas, dapat menjadi pedang yang dapat
dihujamkan pada musuh-musuh Allah itu.”
“InsyaAllah Abi,
InsyaAllah.. Eh,..tapi berarti Abi hari ini tak ke Windesi? Lalu laporan kerja
Abi??”
“Laporan untuk UNEP
sudah rampung Aina,. Mereka pasti cukup puas mengetahui lebar belt mangrove di
sepanjang teluk barat ini bertambah 10 meter tiga tahunan ini. Dan untuk
Windesi, hamdulillah selama dua-tiga bulan ini di Wamesa barat sudah ada cikal
bakal dakwah disana, mudah-mudahan.”
“Amin,
mudah-mudahan..”
“di Wamesa tengah,
Abi sudah disambut baik kepala desanya. Hanya saja untuk Werianggi dan Wamesa
Timur, setelah Abi coba memperkenalkan baju pada mereka, mereka hanya tertawa
dan menganggap kain-kain itu lelucon. Mereka memang relatif lebih primitif dibanding
wilayah sebelah barat. Yaahh…begitulah dakwah di tempat seperti ini Aina.. Jika
tak ada Kau yang selalu bisa menegarkan Abi,..”
“Ssst..sudah,
Kitalah dalam garis takdir Allah yang IA anggap layak diuji disini, itu berarti
kita memang punya cukup kekuatan untuk menunaikan Risalah itu Abi. Untuk
Werianggi dan Wamesa, pasti mereka kelak dapat lebih menerima ajakan-ajakan
kebaikan Abi. Mungkin beberapa waktu ke depan Abi baru bisa memakaikan baju
saja pada mereka… Dan jangan khawatir, karena, jika kita tak sempat memahamkan
mereka, maka mujahid kecil kita ini yang kelak akan memakaikan pakaian Takwa
pada mereka.”
“……”
“……”
“...Mu..jahid..?”
“iya.”
“Seorang putra?”
“InsyaAllah..”
“Anak?!!”
“InsyaAllah Abi.
Barakallah Ya.”
“AllahuAkbar…”
Lelaki itu menyungkur kembali di atas sejadahnya. Sesenggukan. Lamaa.
Bibirnya
mengucap-ucap
Tahmid..
Sang istri pelan
menyentuh pundak sang Lelaki. “Abi…Ibrahim pun sempat tak percaya ketika
Sarah
mengandung Ismail,
Zulkifli juga sempat terperanjat mengetahui Allah mengaruniainya keturunan.
Bagaimana dengan Abi? Aina yakin Abi selalu percaya pada keMahaBesaran Allah..”
“Abi….”
---
Sang Lelaki masih
tenggelam dalam syukurnya yang dalam. Sang istri tersenyum tenang, menggenapi
pancaran iman yang menyinari wajahnya. Ia mengusap-usap lembut pundak sang
Lelaki, mendamaikan keterkejutannya yang Ia sangat pahami.
“di Sanderawoi tadi,
seorang wanita tetua desa menghampiri rumah mama Yosepha. Dan ia mengucapkan
selamat serta mendoakan sesuatu pada Aina yang Aina tak pahami. Tapi kata mama
Yosepha, katanya itu adalah doa pemberkatan untuk jabang Bayi. Sebenarnya Aina
tidak percaya karena sebulanan ini memang belum lagi mengecek kehamilan. Tadi
coba test sendiri, ternyata sudah sekitar 6 hari Abi. 34 hari lagi ia akan
punya Ruh..”
Sang Lelaki mulai
beranjak dari sujudnya. Matanya sembab. Pipinya benar-benar basah. Sang Istri
menyenyuminya, meneduhkan suasana. Lalu ia kembali berujar,
“34 hari lagi ia
akan punya Ruh, dan saat itu tiba, Ruh itu harus menyatu dengan janin ini tanpa
lupa atas ikrarnya pada Allah. Ikrar untuk setia bertauhid hanya padaNya. Maka
janin ini harus siap Abi, buatlah ia selembut kapas bilamana ruh itu nanti menyatu
dengannya. Sampaikanlah kata-katamu padanya. Kata-katamu…punya kekuatan Abi,..”
Lelaki itu tersenyum
haru atas wibawa keshalehan istrinya. Ia diam sejenak. Lalu mengambil mushaf.
Sejurus kemudian ia merundukkan badan sejajar dengan letak si Jabang Bayi.
“Nak, Almarhum kawan
Abi, Ilyas selalu meyakini kata-kata Abi punya kekuatan. Ummi-mu pun begitu.
Kakekmu di Jerman sana begitu juga. Kawan-kawan Abi di Bandung sana juga sama.
Para tetua dan umat disini juga menyukai kata-kata Abi Nak. Meskipun kau belum
punya pendengaran…tapi ketahuilah Nak, bahwa yang membuat mereka semua suka
pada kata-kata Abi sebeulnya bukanlah apa yang meluncur dari mulut Abi. Tapi
karena yang Abi ucapkan adalah ini.” katanya sambil mendekatkan mushaf pada
perut istrinya.
“Karena ini Nak.
Karena ini Kata-kata Abi jadi punya kekuatan. Karena yang Abi sampaikan adalah
kata-kataNya. Maka Abi pun ingin…kelak kau Allah hadirkan di dunia adalah juga
untuk menyampikan kata-kata ini pada dunia. Sebab itu Abi akan membacakan ini padamu
Nak. Abi akan sering melantunkan kata-kata ini di dekatmu. Agar Kau kelak,
punya kekuatan berkata-kata sebab kata-katamu menyatu dengan kata-kataNya.,
Agar Kau kelak…mampu memenuhi takdirmu sebagai waliNya. ”
---
Kata-kata itu
menutup malam mereka dengan keharuan yang beriringan dengan dzikir-dzikir alam.
Pasir menggemerisiki permukaan. Ombak masih keras kepala menghajar tebing
karang. Sementara arus-arus sedang menggumul mengapai-gapai pantai. Angin
dingin mulai merayapi Desa, menyusupi bilik-bilik hamba-hamba…
---
Zhuge Liang : Seorang Penasehat Perang Kerajaan Liu
zaman China Kuno
Red Cliff : Judul sebuah film kolosal China
John Woo : Sutradara kaliber Hollywood yang menggarap
Red Cliff
Drei Elvian : (Jerman: Drei Elfs) Tiga Bidadari
Hawthorne :Penulis Cerpen-cerpen klasik Jerman, kental
filosofi
Maupassant : Penulis Cerpen-cerpen klasik Perancis,
lebih menekankan isi dengan memainkan watak tokoh
Die Hübsch : (Jerman)Si Cantik
Sanderawoi : Nama sebuah Desa d Kecamatan Wasior
Selatan Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat
Reunifikasi : Penyatuan Negara
Likud : Nama sebuah partai di Israel
Amirul mu’minin: Pemimpin orang-orang beriman
(Khalifah)
Windesi : Nama sebuah Kecamatan di kabupaten Teluk
Wondama
UNEP : United Nation Environmental Programs (Badan
Pemerhati LIngkungan PBB)
Belt : Kumpulan mangrove yang membentuk sabuk yang
menutupi sepanjang pesisir pantai
Mushaf : Al Qur’an
Werianggi, Wamesa Timur, Wamesa tengah : Desa-desa di
KEcamatan Windesi
No comments:
Post a Comment