Monday, April 6, 2015

Kekuatan Kata-kata di Suatu Kala Nanti

Mimpi adalah rangkaian rencana yang dieksekusi dengan tindakan-tindakan.
Sangat senjang dengan angan-angan.
Maka dulu ketika terbit rasa untuk menikah, saya awali dengan mimpi.
Mimpi itu saya tuangkan dalam sebuah tulisan, cerpen. 
Kanvas gratis yang memang tengah saya gemari saat itu. 
Dengan tulisan itu, saya sisipkan mimpi indah itu.
Kehidupan dengan seseorang yang akan dicintai kelak.
Cerpen yang mungkin tidak terlalu bagus, namun boleh dibilang dari sinilah semua kinerja untuk mewujudkan mimpi itu dimulai. 
Tulisan yang selalu menggantung di di depan pandangan. 
Tulisan yang menghamburkan labirin, dan memberi karpet merah pada perjalanan saya kelak.

Inilah cerita tersebut :


Kekuatan Kata-kata di Suatu Kala Nanti

“Hendak apa Abi?, mengasah pedangmu lagi?” 

Lelaki yang ditanya menyungging senyum indah pada istri tercintanya itu.

“Aina, terima kasih untuk selalu memahamiku. Kau membingkai kenangan mudaku untuk selalu kau hadapkan pagi-pagi dan menambah bara semangat ke dada yang melemah ini”

Aina, sang istri terkasih tersenyum penuh kenangan, “Allah telah menciptakanku untuk jadi bagian dari bara semangatmu itu Abi.”


Cahaya pagi membuka temaram rumah sederhana itu dengan kehangatan Cinta Ilahiah yang suci. Rerumputan masih sedikit basah. Embikan-embikan kambing mulai membangunkan kehidupan sederhana di pesisir sebuah desa di Sasirei, Wasior Selatan yang nyaris terpencil di cerukan teluk Wondama Papua Barat.

Lelaki itu berdiri dengan mata menanar. Menghadap jendela. Menatap buana yang menggeliat. Sesungging senyum menggerat wajahnya.

“Pedangku..” katanya lirih..

---

“Aku selalu terpesona melihat film seperti ini. Menggambarkan pada kita dengan jelas bagaimana praktik perang yang sesungguhnya. Terbayang bagaimana Rasulullah dan para sahabat dulu dalam banyak kegetiran, keterbatasan dan keterdesakan mampu dengan segenap keimanan memaksimalkan ikhtiar-ikhtiar kemenangan mereka.”

“Ya, benar. Beruntung orang-orang timur masih mau menggarap film epik yang indah seperti itu. Zhuge Liang. Hebat sekali orang itu digambarkan. Orang yang taktikal, dingin, tenang dan cerdas. ”


Sebuah kos di kawasan Jatinangor, Sumedang masih ramai oleh pembicaraan dua lelaki muda yang penuh mimpi itu. Malam ini mereka ‘Merehatkan’ kepenatan aktivitas dua mingguan kala itu yang padat dengan menonton Red Cliff-nya John Woo. Padahal bukan kali pertama mereka menonton film itu. Tapi, ya begitulah anak muda. Semangatnya besar meski seringnya aksi di lapangan tak sebesar mimpi dan pembicaraan-pembicaraannya. Dua anak muda itu, mereka selalu semangat membicarakan kisah-kisah peperangan Rasulullah dan para sahabatnya. Dan karena memvisualisasikan hal itu sulit mendekati realita, maka menonton ‘gambaran’ perang yang sesungguhnya sangatlah menyenangkan bagi keduanya.


“Kau dan aku begitu menyenangi film Epik. Tapi bagiku pribadi, inti dari kesenangan itu adalah tentang bagaimana memelihara semangat jihad kita.”

“Ya, betul Yas. Itu semua tentang bagaimana memelihara spirit itu agar selalu tersemai di dada kita. Jihad adalah Spirit sejati seorang mu’min.”


Ilyas, lelaki yang satunya itu kemudian menatap kawan bicaranya. Dengan mata penuh luapan gembira, ia berkata, “Tapi ada satu lagi selain film-film itu yang selalu bisa menghidupkan semangat jiwaku.”

“eh.., apa itu Ilyas?”

“kata-katamu.”

“eh..”

“Ya, kata-katamu akhi. Aku suka kata-katamu. Dan bila hidup kita saat ini adalah peperangan, maka kata-katamu itulah Pedangmu. Zulfikarnya dakwah kita.”

“Ah..kau ini Yas..”

“Betul akhi. Aku masih ingat satu kalimat dari catatanmu yang hampir selalu bisa menyemangatiku. Kau pernah menulis ‘Muslim itu, di dadanya menggelegak semangat Jihad. Mereka bermujahadah mulai dari membersihkan cucian kotor mereka sampai bermujahadah dengan membersihkan kekotoran hatinya.’ Aku suka kalimat ngaco itu, ah Haha…”

“Pujianmu itu menyinggung Yas..”

“hahaha haha. Tapi Betul akhi. Kata-katamu sering serampangan. Seperti lahir dari keinginan kuat untuk memperbaiki dan memberikan sesuatu kepada sebanyak-banyak orang tapi kau tak memandang keadaan mereka. Kau memukul rata kondisi mereka.”

“Maksudnya?”

“Ya kau pikirkan lagi lah apa yang terjadi dengan Risma seminggu lalu. Kau ceritanya menasehati agar fotonya tak di-upload ke internet. Dan meluncurlah kata-kata mu itu yang sekeyakinanmu pasti ‘memang seharusnya begitu.’ Tapi lihat apa yang terjadi?! Dia lama tak mengajakmu bicara kan? Dia itu tersinggung. Kata-katamu terlalu membombardir. Buat mereka yang halus perasaannya, kau itu Nampak kurang ajar dikit akhi, hahaHa.”

“Ouwh,…”

“Cuma segitu lagi komenmu, ah HAha. Dasar kau ini memang dingin. Tapi, whatever what they’re saying bout you bro. You’ll keep still my partner. Your word, is sharp enough. Sharp enough to become the sword who’ll be the one strong weapon on finishing this fight.”

“Kau yakin? Really sure?”

“Ya, I’m strongly sure you have that power. Tinggal ngarahin aja. Sesuaikan dengan apa yang kau hadapi, dan hujamkanlah pedang katamu itu untuk memperbaiki zaman.”

“Allahu Akbar!!”

“masyaAllah Allahu Akbar!”

---


“Sedang mengingat masa lalu, Abi?”

“ya, Aina.” ”Abi ingat benar, bagaimana 15 tahun lalu, almarhum kawan Abi semasa kuliah dulu, Ilyas, begitu meyakini potensi besar kemampuan menulis Abi. Ia memberi semangat, meyakinkan Abi bahwa Abi bisa. Dan begitulah Abi kemudian mengarahkan segenap potensi Abi untuk menulis. Hamdulillah banyak yang menyanjung di kemudian hari. Sempat jadi ‘alat tempur’ saat di kampus dulu. Saling lempar statement dengan kawan-kawan dari organisasi lain. Karena itu Ilyas menjadikan tulisan Abi sebagai ‘pedang dakwah’ kami.”

“Ya, Aina paham betul itu. Kata-kata Abi memang punya kekuatan. Bahkan mungkin bukan hanya jadi pedang. Tapi panah yang bisa menancap tepat di hati Aina.”

“hush!! Ssst sst. Sudah sudah. Malu Abi kalau mengingat-ingat itu.”


Mereka tertawa memesrai pagi kala itu. Masa lalu adalah hal terjauh yang tak terjangkau. Namun jika masa lalu telah dilewati dengan kasih sayang persaudaraan, perjuangan, Cinta dan ketakwaan, maka kenangan di dalamnya akan punya kekuatan yang membangun semangat jiwa.

---


Sang lelaki mengasah pedang (mengelap keypad notebook) tuanya dengan hati-hati dan mata bersinar. Sang istri telah selesai menunai dhuha di mushalla pinggir rumah mereka. Beberapa ibu-ibu juga turut shalat disitu. 


“Assalammu’alaikum…”

“’alaikumSalam warahmatullaah wabarakaatuh.”

“eh Abi, laptopnya mengkilat lat. Sudah cantik.”


Mata sang suami menyipit mengiring senyum atas perkataan sang Istri.

“Iya, dia harus selalu cantik. Karena ini adalah hadiah berharga dari Ayah angkat Abi saat di Jerman dulu.”

“Dr. Thürrman Hannön?”

“Iya. 2011. Saat setengah tahun pertama di Hannover, beliau katanya tertarik dengan tulisan Abi yang judulnya Drei Elvian, tentang 3 Bidadari. Inti tulisan itu adalah tentang harapan-harapan dan kecintaan Abi pada 3 wanita berharga dalam hidup Abi, yaitu Adik Iparmu, mertuamu, dan..”

“Satu lagi?”

---


“Satu lagi?”

“dirimu.”


Matahari pagi sudah beranjak dari horison. Riakan pantai yang meramai telah menambah hidup kehidupan desa. Dan di rumah sederhana itu, sang lelaki masih membangun kekuatan jiwanya dengan 
kenangan-kenangan…


“iih Abi, bener kan, Nancep tuh disini”, kata sang Istri menyentuh lembut jilbab yang menutup dadanya.
“ah Haha. Ya, Dr. Thürrman mengerti sekali apa isi tulisan itu. Karena itu Abi tulis saat masih bujang, beliau mempertanyakan. ‘Lalu siapa bidadari yang ketiga itu?’ Jelas Abi bingung menjawabnya kala itu. Namun karena Abi mengerti betul beliau adalah penyuka tulisan klasik Hawthorne dan Maupassant, maka Abi menjawabnya dengan sedikit ber’bumbu’, Abi katakan, ‘Yang ketiga itu adalah ia yang di hatinya ada Tuhanku, yang hidupnya untuk Tuhanku’.” 

“Memang Dr. Thürrman ngerti maksud kalimat Abi?”

“Tak ada yang Absolut dalam menginterpretasi pemikiran. Apalagi jika tertuang dalam kalimat-kalimat sastrawi. Namun apapun pendapatnya, insyaAllah muara maknanyanya Satu, Aina. Dan melihat ekspresi beliau yang langsung memejam mata dan sedikit mengangguk, Abi yakin beliau cukup dalam menginterpretasikannya.”

“Subhanallah Abi ya?”

“Ya, hamdulilah. Dan yang tak terduga adalah dua hari setelah itu, saat makan malam, Andrea, putri sulung beliau, membawa bungkusan dan mempersilakan Ayahnya itu untuk menjelaskan Apa itu kepada Abi. Dan beliau bilang, ‘Aku menyukai kata-katamu. Kau Bijak memahami agama dan kehidupanmu. Aku salut mendapati pemuda yang seperti dirimu. Aku tahu kau akan menyanding bidadari ketigamu itu dua tahun lagi, maka ini kuhadiahkan padamu untuk menemanimu selama dua tahun penantian itu’. Lalu Abi membukanya, Di bungkusannya terdapat tulisan Die Hübsch, si Cantik. Abi tersenyum haru ketika tahu di dalamnya ternyata sebuah laptop, ya…yang Abi pegang ini, si Cantik, hehe. ‘Itu si Cantik, bidadari yang 
akan menemanimu sementara waktu’ kata Dr. Thürrman. Abi haru jika mengingat itu…”

“Kata-katamu. Lagi-lagi itu menarik perhatian seorang manusia. Aina bangga membersamai Abi selama ini. Kata-kata Abi memang menarik. Selalu menarik.” Sang istri menanari ruang sedehana itu dengan keharuan ..


Hampir pukul 09.00 WIT. Anak-anak nampak ramai berlarian bermain-main. Sang Lelaki meninggalkan sementara pedangnya. Ia menatap lekat anak-anak itu. Ia merasai Rindu untuk celotehan itu juga melengkapi indah pagi seperti ini disisinya. Ia ingin celotehan itu di sisinya. Tapi…


“Abi, Aina izin berangkat dulu ya,.”

Lamunan sang Lelaki tersibak. Ia menoleh pada sang Istri. “Ke Sanderawoi??”


“Iya Abi, setelah mama Hana 4 hari lalu Umi bekam, Ia merasa senang karena merasa luka dalam di betisnya tak terasa lagi. Lalu ia mengabarkan berita itu ke Ibu-ibu yang lain, termasuk saudarinya, mama Yosepha di Sanderawoi yang sekarang Umi mau kesana. Katanya dia juga punya luka dalam di lengan, mudah-mudahan ikhtiar Umi ini bisa membantu lebih banyak mama-mama lainnya Abi,.”

“InsyaAllah, mudah-mudahan ini juga akan maslahat untuk dakwah. Agama kita ini harus kita sampaikan dengan kasih sayang tulus yang sebesar-besarnya. Hati-hati di perjalanan ya. Ingat, Sentuhan, mata, juga senyuman adalah bahasa tanpa kata. Ketiganya bisa meresap jadi Cinta pada setiap mama yang kau obati..”

“insyaAllah Abi, kata-katamu memang pantas bila dikagumi Ilyas.. Assalammu’alikum..”

“Wa’alaikumsalam..” balas sang Lelaki sembari mendekap lembut tangan sang Istri di pipinya.


Menjelang 17 Desember 2024, Pukul 19.55 WIT. Kedua insan itu selesai menunaikan witir. Ombak berdebur seakan ingin menggapai-gapai bintang yang memendar-mendar Cantik di atasnya.. ingin berkata-kata banyak tentang segenap ikhtiar untuk mencapainya di langit sana..

“Jadi seharian tadi Abi Cuma di rumah? ”

“Iya, Cuma mengetik dan mengetik..”

“Apalagi Abiii….? Apalagi yang mesti ditulis?”

“Sumbangan semangat untuk saudara muslim kita di Malaysia dan Pakistan.”

“Reunifikasi?”

“iya, Masih sekitaran 40-45% anggota parlemen keduanya menyangsikan dan sebagian kecil menolak mentah-mentah reunifikasi untuk mewujudkan negara Impian kita semua. Berdasarkan informasi, memang katanya ada beberapa gelintir susupan Likud disana. Sehingga pengalihan opini mudah sekali terjadi. Abi hanya ingin mereka dapat tetap fokus dan semangat menjaga Misi Risalah Rasulullah untuk bisa kembali bersatu di bawah pimpinan seorang Amir. Amirul mu’minin yang baru. Yahudi-yahudi memang cerdas sekali. Kata Ramdan, teman Abi di staf ahli Kementerian Luar Negeri, statement-statement pendek susupan-susupan Likud itu mudah sekali mengalihkan fokus Bahasan Reunifikasi di Parlemen.”

“dan Abi berharap kata-kata Abi bisa jadi tameng saudara-saudara kita disana agar tak kalah oleh serangan kata-kata oposisi disana?”

“Bukan hanya Tameng, namun sekaligus juga seperti kata Ilyas, dapat menjadi pedang yang dapat dihujamkan pada musuh-musuh Allah itu.”

“InsyaAllah Abi, InsyaAllah.. Eh,..tapi berarti Abi hari ini tak ke Windesi? Lalu laporan kerja Abi??” 

“Laporan untuk UNEP sudah rampung Aina,. Mereka pasti cukup puas mengetahui lebar belt mangrove di sepanjang teluk barat ini bertambah 10 meter tiga tahunan ini. Dan untuk Windesi, hamdulillah selama dua-tiga bulan ini di Wamesa barat sudah ada cikal bakal dakwah disana, mudah-mudahan.”

“Amin, mudah-mudahan..”

“di Wamesa tengah, Abi sudah disambut baik kepala desanya. Hanya saja untuk Werianggi dan Wamesa Timur, setelah Abi coba memperkenalkan baju pada mereka, mereka hanya tertawa dan menganggap kain-kain itu lelucon. Mereka memang relatif lebih primitif dibanding wilayah sebelah barat. Yaahh…begitulah dakwah di tempat seperti ini Aina.. Jika tak ada Kau yang selalu bisa menegarkan Abi,..”

“Ssst..sudah, Kitalah dalam garis takdir Allah yang IA anggap layak diuji disini, itu berarti kita memang punya cukup kekuatan untuk menunaikan Risalah itu Abi. Untuk Werianggi dan Wamesa, pasti mereka kelak dapat lebih menerima ajakan-ajakan kebaikan Abi. Mungkin beberapa waktu ke depan Abi baru bisa memakaikan baju saja pada mereka… Dan jangan khawatir, karena, jika kita tak sempat memahamkan mereka, maka mujahid kecil kita ini yang kelak akan memakaikan pakaian Takwa pada mereka.”

“……”

“……”

“...Mu..jahid..?”

“iya.”

“Seorang putra?”

“InsyaAllah..”

“Anak?!!”

“InsyaAllah Abi. Barakallah Ya.”

“AllahuAkbar…” Lelaki itu menyungkur kembali di atas sejadahnya. Sesenggukan. Lamaa. Bibirnya 
mengucap-ucap Tahmid..


Sang istri pelan menyentuh pundak sang Lelaki. “Abi…Ibrahim pun sempat tak percaya ketika Sarah 
mengandung Ismail, Zulkifli juga sempat terperanjat mengetahui Allah mengaruniainya keturunan. Bagaimana dengan Abi? Aina yakin Abi selalu percaya pada keMahaBesaran Allah..”

“Abi….”

---


Sang Lelaki masih tenggelam dalam syukurnya yang dalam. Sang istri tersenyum tenang, menggenapi pancaran iman yang menyinari wajahnya. Ia mengusap-usap lembut pundak sang Lelaki, mendamaikan keterkejutannya yang Ia sangat pahami.

“di Sanderawoi tadi, seorang wanita tetua desa menghampiri rumah mama Yosepha. Dan ia mengucapkan selamat serta mendoakan sesuatu pada Aina yang Aina tak pahami. Tapi kata mama Yosepha, katanya itu adalah doa pemberkatan untuk jabang Bayi. Sebenarnya Aina tidak percaya karena sebulanan ini memang belum lagi mengecek kehamilan. Tadi coba test sendiri, ternyata sudah sekitar 6 hari Abi. 34 hari lagi ia akan punya Ruh..”

Sang Lelaki mulai beranjak dari sujudnya. Matanya sembab. Pipinya benar-benar basah. Sang Istri menyenyuminya, meneduhkan suasana. Lalu ia kembali berujar,

“34 hari lagi ia akan punya Ruh, dan saat itu tiba, Ruh itu harus menyatu dengan janin ini tanpa lupa atas ikrarnya pada Allah. Ikrar untuk setia bertauhid hanya padaNya. Maka janin ini harus siap Abi, buatlah ia selembut kapas bilamana ruh itu nanti menyatu dengannya. Sampaikanlah kata-katamu padanya. Kata-katamu…punya kekuatan Abi,..”

Lelaki itu tersenyum haru atas wibawa keshalehan istrinya. Ia diam sejenak. Lalu mengambil mushaf. Sejurus kemudian ia merundukkan badan sejajar dengan letak si Jabang Bayi.

“Nak, Almarhum kawan Abi, Ilyas selalu meyakini kata-kata Abi punya kekuatan. Ummi-mu pun begitu. Kakekmu di Jerman sana begitu juga. Kawan-kawan Abi di Bandung sana juga sama. Para tetua dan umat disini juga menyukai kata-kata Abi Nak. Meskipun kau belum punya pendengaran…tapi ketahuilah Nak, bahwa yang membuat mereka semua suka pada kata-kata Abi sebeulnya bukanlah apa yang meluncur dari mulut Abi. Tapi karena yang Abi ucapkan adalah ini.” katanya sambil mendekatkan mushaf pada perut istrinya.

“Karena ini Nak. Karena ini Kata-kata Abi jadi punya kekuatan. Karena yang Abi sampaikan adalah kata-kataNya. Maka Abi pun ingin…kelak kau Allah hadirkan di dunia adalah juga untuk menyampikan kata-kata ini pada dunia. Sebab itu Abi akan membacakan ini padamu Nak. Abi akan sering melantunkan kata-kata ini di dekatmu. Agar Kau kelak, punya kekuatan berkata-kata sebab kata-katamu menyatu dengan kata-kataNya., Agar Kau kelak…mampu memenuhi takdirmu sebagai waliNya. ”

---


Kata-kata itu menutup malam mereka dengan keharuan yang beriringan dengan dzikir-dzikir alam. Pasir menggemerisiki permukaan. Ombak masih keras kepala menghajar tebing karang. Sementara arus-arus sedang menggumul mengapai-gapai pantai. Angin dingin mulai merayapi Desa, menyusupi bilik-bilik hamba-hamba…


---



Zhuge Liang : Seorang Penasehat Perang Kerajaan Liu zaman China Kuno 
Red Cliff : Judul sebuah film kolosal China
John Woo : Sutradara kaliber Hollywood yang menggarap Red Cliff
Drei Elvian : (Jerman: Drei Elfs) Tiga Bidadari
Hawthorne :Penulis Cerpen-cerpen klasik Jerman, kental filosofi
Maupassant : Penulis Cerpen-cerpen klasik Perancis, lebih menekankan isi dengan memainkan watak tokoh
Die Hübsch : (Jerman)Si Cantik
Sanderawoi : Nama sebuah Desa d Kecamatan Wasior Selatan Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat
Reunifikasi : Penyatuan Negara
Likud : Nama sebuah partai di Israel
Amirul mu’minin: Pemimpin orang-orang beriman (Khalifah)
Windesi : Nama sebuah Kecamatan di kabupaten Teluk Wondama
UNEP : United Nation Environmental Programs (Badan Pemerhati LIngkungan PBB)
Belt : Kumpulan mangrove yang membentuk sabuk yang menutupi sepanjang pesisir pantai
Mushaf : Al Qur’an
Werianggi, Wamesa Timur, Wamesa tengah : Desa-desa di KEcamatan Windesi


No comments:

Post a Comment