Cuaca di luar nampak
tebal dengan ruap embun. Baunya juga satir masuk ke rumah. Rumah sederhana kami
yang berdinding kayu-kayu, sebagaimana lantainya.
Di rentang dhuha, matahari tampil kian cantik. Jika
matahari tampil demikian, maka alam pun ikut cantik. Pohon kian genit pamer
hijaunya, burung-burung bercericit, awan-awan dengan damai mulai mengapas
dibersamai angin.
Kami sekeluarga pun
seperti biasa duduk di selasar ruang besar. Ruang yang sengaja tak
dijejali perabot biar kami bisa duduk
dan saling bercengkerama tentang banyak hal.
Mulai dari makan, curhat sampai berkelakar.
Disini, pagi ini
seperti biasa aku hendak memimpin ngaji. Sebuah Quran besar sedang kubuka,
mencari ayat yang akan dibaca dan dikaji.
Ketika itulah ia muncul, tamu tak
terduga yang jadi penyampai pesan ini. Mimpi malam ini.
Sesaat sebelum mulai
membaca Qur'an, seseorang masuk. Jilbabnya putih, mengulur dan memantulkan
cahaya pagi.
Ia jelas bertamu,
tapi bergaun. Seperti habis atau sedang akan ke pesta. Datang sendirian, sejak
muka pintu ia menunduk sebelumnya akhirnya bersimpuh duduk tak jauh dari kami.
Tak ada kata sepatah
pun. Ia lantas mengeluarkan sebuah Qur'an. Membuka sebuah halaman, lantas
membacanya. Tertahan, kami sekeluarga masih heran. Apa sebenarnya ini? Yang
jelas bukan reality show. Nyasar? Sepertinya tidak. Ia jelas menuju
kemari dan punya tujuan tertentu.
Demi mendengar suara
yang terlantun, kami terdiam sambil masing-masing tetap sibuk bertanya di
pikiran masing-masing. Masyaallah, suara
yang sangat indah. Tak melengking-lengking seperti para qari, tak juga terlampau pelan. Pas, sangat pas. Ia pun
membawakannya dengan irama yang belum kami kenal. Yang kusuka irama Hany ar rifa'i. Lainnya ada penyuka Al Ghamidi atau Misyari
Rasyid. Namun irama ini tak kami kenal. Lantunan yang sama sekali segar
dari penutur Al Quran.
Kami masih terkesima
dengan apa yang ia baca. Sungguh khusyu,
mendalami betul apa yang ia tengah baca. Hati pun berdesir. Duhai siapakah
bidadari cantik yang mengunjungi rumah kami. Datang ia dengan cahaya, tak
berucap suara lisannya kecuali Al Qur'an.
Lantas hati pun damai, mulai membisikkan rindunya pada seorang
perempuan: Aku Jatuh Hati.
Menilik wajahnya aku
tak bisa. Ia menunduk dari awal tiba hingga kini tenggelam dalam khusyunya.
Sebelum sempat aku bertanya dan menilik lebih jauh, mimpi ini pun berakhir.
Meninggalkan kesan dini hari yang kian suci. Hadiah Ilahi, undangan untuk
bertaubat, dan berikhtiar.
---
Bila mimpi memang
disepakati sebagai bunga tidur, maka ada banyak yang bisa kita lakukan untuk tak
sekedar menjadikannya hiasan.
Dari mimpi ini saya
mendapat pesan, bahwa di tengah kebimbangan mengenai pasangan yang dinantikan,
ia pasti suatu saat akan datang. Entah siapa, darimana dan bagaimana, wanita
pilihan Allah itu pasti akan hadir. Mimpi ini menambal keyakinan saya, bahwa bila
kita tampil dengan performa terbaik sebagai hamba, maka seorang wanita, hamba
pilihan terbaik dari Allah pun pasti dengan Ridha-Nya akan Ia datangkan,
insyaallah.

No comments:
Post a Comment