Friday, April 24, 2015

Tunduk Bidadari

Cuaca di luar nampak tebal dengan ruap embun. Baunya juga satir masuk ke rumah. Rumah sederhana kami yang berdinding kayu-kayu, sebagaimana lantainya.

Di rentang dhuha, matahari tampil kian cantik. Jika matahari tampil demikian, maka alam pun ikut cantik. Pohon kian genit pamer hijaunya, burung-burung bercericit, awan-awan dengan damai mulai mengapas dibersamai angin.

Kami sekeluarga pun seperti biasa duduk di selasar ruang besar. Ruang yang sengaja tak dijejali  perabot biar kami bisa duduk dan saling bercengkerama tentang banyak hal.  Mulai dari makan, curhat sampai berkelakar.

Disini, pagi ini seperti biasa aku hendak memimpin ngaji. Sebuah Quran besar sedang kubuka, mencari ayat yang akan dibaca dan dikaji.  Ketika itulah ia muncul,  tamu tak terduga yang jadi penyampai pesan ini. Mimpi malam ini.

Sesaat sebelum mulai membaca Qur'an, seseorang masuk. Jilbabnya putih, mengulur dan memantulkan cahaya pagi.
Ia jelas bertamu, tapi bergaun. Seperti habis atau sedang akan ke pesta. Datang sendirian, sejak muka pintu ia menunduk sebelumnya akhirnya bersimpuh duduk tak jauh dari kami.

Tak ada kata sepatah pun. Ia lantas mengeluarkan sebuah Qur'an. Membuka sebuah halaman, lantas membacanya. Tertahan, kami sekeluarga masih heran. Apa sebenarnya ini? Yang jelas bukan reality show. Nyasar? Sepertinya tidak. Ia jelas menuju kemari dan punya tujuan tertentu.

Demi mendengar suara yang terlantun, kami terdiam sambil masing-masing tetap sibuk bertanya di pikiran masing-masing. Masyaallah, suara yang sangat indah. Tak melengking-lengking seperti para qari, tak juga terlampau pelan. Pas, sangat pas. Ia pun membawakannya dengan irama yang belum kami kenal. Yang kusuka irama Hany ar rifa'i. Lainnya ada penyuka Al Ghamidi atau Misyari Rasyid. Namun irama ini tak kami kenal. Lantunan yang sama sekali segar dari penutur Al Quran.

Kami masih terkesima dengan apa yang ia baca. Sungguh khusyu, mendalami betul apa yang ia tengah baca. Hati pun berdesir. Duhai siapakah bidadari cantik yang mengunjungi rumah kami. Datang ia dengan cahaya, tak berucap suara lisannya kecuali Al Qur'an.  Lantas hati pun damai, mulai membisikkan rindunya pada seorang perempuan: Aku Jatuh Hati.

Menilik wajahnya aku tak bisa. Ia menunduk dari awal tiba hingga kini tenggelam dalam khusyunya. Sebelum sempat aku bertanya dan menilik lebih jauh, mimpi ini pun berakhir. Meninggalkan kesan dini hari yang kian suci. Hadiah Ilahi, undangan untuk bertaubat, dan berikhtiar.

---

Bila mimpi memang disepakati sebagai bunga tidur, maka ada banyak yang bisa kita lakukan untuk tak sekedar menjadikannya hiasan.

Dari mimpi ini saya mendapat pesan, bahwa di tengah kebimbangan mengenai pasangan yang dinantikan, ia pasti suatu saat akan datang. Entah siapa, darimana dan bagaimana, wanita pilihan Allah itu pasti akan hadir. Mimpi ini menambal keyakinan saya, bahwa bila kita tampil dengan performa terbaik sebagai hamba, maka seorang wanita, hamba pilihan terbaik dari Allah pun pasti dengan Ridha-Nya akan Ia datangkan, insyaallah.







No comments:

Post a Comment